Feeling

Di Balik Layar

6
Perhelatan besar Dieng Culture Festival ke-7, baru saja usai. Tercatat 4000 tiket yang disediakan panitia habis terjual, dan konon pada malam kedua saat penerbangan lampion, ada sekitar 125.000 manusia berkumpul di kawasan setinggi 2000 meter di atas permukaan laut ini. Alhasil, kemeriahan, kegembiraan dan omelan kesal karena kemacetan bercampur aduk saat momen ini. Bagi mereka yang terlibat, euforia kepuasan dan kegembiraan dan aura dinginnya Dieng belum hilang.

(more…)

Advertisements

Semakin Ganteng Lahir Batin

doodleMungkin bagi orang lain adalah hal yang biasa, tapi bagi saya ini fenomenal sekali. Hingga siang tadi, foto donat, iya.. sekedar foto donat yang diunggah di IG dibanjiri like hingga seratus lebih. Ini baru sekali terjadi. Biasanya dapat 10 like aja udah bagus banget . Nah, selain “banjir” like di IG, hari ini saya juga dibajiri message, baik via whatsapp maupun bbm termasuk fb messenger 😀 Baik yang japri maupun disampaikan barengan di group. Ucapan selamat ulang tahun.

(more…)

Bapak

Kalau tidak salah, aku terakhir bertemu dengan beliau sekitar tiga tahun lalu saat ada acara di Jakarta. Beliau memang tinggal di sana. Dan setelah itu, setiap kali ke Jakarta, entah kenapa aku tidak pernah meluangkan waktu untuk menengok beliau. Komunikasi terakhir juga via telpon saat memberi kabar bahwa ibu meninggal, hampir dua tahun lalu.

Ya, komunikasi kami memang tidak baik. Tepatnya kurang lancar. Masalahnya cuma satu, aku. Ya, aku memang yang menjadi masalah karena sebagai anak tidak pernah “ngaruhke” kepada yang lebih tua.

Anak? Ya, beliau memang ayahku, ayah kandung, ayah biologis. Namun karena sesuatu hal, beliau terpaksa meninggalkan ibu saat aku masih berada di kandungan. Aku pertama kali mengenal beliau saat masih TK, masih kecil belum paham apa-apa. Sehingga sosok “bapak” yang aku tahu adalah bapak yang selama itu tinggal serumah dengan aku, bapak yang merawat aku, memberi makan serta membiayai sekolahku. Bahkan saat menikah, aku lebih memilih paman mendampingi ibu. Satu penghormatanku kepada bapak tiriku. Oh God, I never use that word…

Dan saat ini, aku duduk di ruang tunggu bandara. Pagi tadi aku dapat kabar beliau meninggal dunia. Aku memang sedih. Setidak harmonis apapun komunikasi kami, beliau tetaplah bapakku, ayah kandungku. Pesawat ke Jakarta baru akan take off nanti jam 13:00. Dan aku sudah tidak bisa berharap bisa memandang wajah bapak untuk terakhir kali. Tapi aku memang wajib datang. Yang utama mendoakan beliau. Barangkali juga aku bisa berperan selayaknya seorang “kakak” terhadap dua adik perempuanku di sana. Mungkin hubungan ini harus diperbaiki…

Selamat jalan bapak…