Memasak Itu Menyenangkan

Memasak itu menyenangkan. Di samping untuk memenuhi kebutuhan pangan dan menghemat pengeluaran, ternyata memasak bisa menjadi rekreasi yang menarik. Sudah setahun ini saya memasak sendiri. Terbukti bisa menghemat biaya makan sehari-hari. Sebelum memasak sendiri, setidaknya sekali makan mesti mengeluarkan duit 15.000 – 20.000 rupiah. Itu belum kalau lagi malas keluar dan beli pakai aplikasi yang tentunya bikin lebih mahal lagi. Tetapi ternyata setelah memasak sendiri, dengan belanja 15.000 – 20.000 rupiah bisa dipakai untuk makan sehari, bahkan bisa sisa dan cukup diangetin untuk besoknya. Belum lagi bumbu-bumbu yang tersisa bisa dipakai untuk masak menu yang lain lagi.

Berawal dari “ketakutan” keluar rumah dan makan di warung saat pandemi. Tiap hari pesan makan pakai aplikasi dan mewajarkan adanya pembengkakan biaya. Namun lambat laun serem juga manakala pengeluaran yang besar tidak diimbangi dengan pemasukan. Sepi order means sepi transferan yang berarti mesti berhemat. Itulah awal mula saya memutuskan untuk memasak, dan akhirnya ketagihan. Memang sih, setelah beberapa waktu menikmati masak sendiri akhirnya muncul kebutuhan memiliki peralatan memasak. Kompor, tabung gas, panci, wajan mesti dibeli. Perlahan mulai mencicil berbagai peralatan yang lain, hingga setelah satu tahun saya punya beberapa variasi perkakas memasak, termasuk “nggaya” beli pisau dapur yang lumayan mahal haha..

Memasak itu menyenangkan. Terlebih saat melihat orang lain senang dan menikmati masakan kita. Di awal-awal dulu  paling cuma berani masak oseng tempe dan tumis kangkung. Setelah gugling, akhirnya mencoba memasak yang – menurut saya – agak repot. Masakan ribet saya yang pertama adalah sayur lodeh mbayung (daun kacang panjang). Berhasil? Oh, tentu tidaaakk.. untuk porsi yang kecil saya kasih santan instan 200ml. Eneg! Tapi tidak kapok dong.. Dengan sisa kuah kemarin, dimasak ulang yang ternyata hasilnya mendingan. Berikutnya mencoba masak sayur brongkos. Berhasil? Oh, tentu tidaaakk hahaha.. dari sisi rasa sudah cukupan, hanya karena kluwak (kluwek) tidak dihalusin, akibatnya “pating krampul” alias mengambang di kuah. Secara visual jelek. Tapi tetep enak dimakan. Namun sekarang, memasak sayur brongkos, lodeh sudah bisa sambil ketawa ketiwi dan hasilnya banyak yang suka. Beneran, ternyata banyak yang suka masakan saya. Khususnya sayur lodeh dan sambal cumi.

Ngomongin soal sambal, saya adalah penggemar cabe dan pete. Sebelumnya saya suka beli berbagai sambal yang dijual teman-teman. Namun seringnya kurang mantab karena kurang pedas. Kenapa gak bikin sendiri? Akhirnya dengan mengandalkan browsang-browsing bisa bikin berbagai sambal yang enak dan sesuai keinginan, pedas! Yang lucu lagi, ketika seorang teman penjual sambal – yang dulu saya beli – mencicipi dan komentar, “Lha kok enak sambelmu, mas?”

Bisa memasak juga cukup membantu untuk berbagi. Beberapa kali, baik teman maupun keluarga harus isolasi mandiri, saya memasak ayam ungkep atau ayam tempe tahu bacem dan ditambah sambal matang. Cukup diantar sekali, mereka bisa simpan di kulkas, tinggal panasin secukupnya untuk dimakan. Bagi saya itu simpel dan praktis. Setidaknya saya bisa ikut berbagi tanpa mereka harus repot masak.

Memasak itu menyenangkan. Dari mana saya belajar? Ya gugling. Banyak sekali berbagai resep masakan yang bisa didapat di internet. Bisa dari youtube, website hingga aplikasi seperti cookpad. Tinggal pilih sumber mana yang cocok dengan keinginan kita, atau sesuai dengan bahan yang kita miliki.

Setelah hobi masak, muncul masalah sepele tapi menyebalkan. Misalnya kita butuh daun salam atau daun jeruk, paling butuhnya cuma dua tiga lembar, tapi enggak mungkin kalau beli segitu tok. Makanya saya menanam berbagai bumbu-bumbu seperti itu. Ada pohon salam, jeruk purut, sere, pandan, cabe, kencur, jahe dan lengkuas. Di saat butuh tinggal petik secukupnya tanpa harus menyimpan lama yang beresiko busuk. Keuntungan lainnya adalah, ketika kemarin rame-rame harga cabe mahal, saya tidak ikut merasakannya karena di rumah ada tiga pohon cabe yang semuanya berbuah lebat haha

Memasak itu sungguh menyenangkan. Apalagi dibumbui dengan drama keasinan, menghitung berapa bawang merah dan bawang putih, berapa butir miri, perlu ketumbar atau tidak, termasuk ketukar antara kencur dan jahe. Tapi dari pengalaman-pengalaman tersebut semakin memperkaya pengetahuan. Setidaknya jadi bisa membedakan antara jahe dan kencur, serta memperkaya diri pula, karena akhirnya jadi punya chopper juga 😀

Memasak itu menyenangkan. Dengan bahan dan bumbu yang ada, kita berani iseng mencoba membuat menu baru – yang setidaknya – enak dimakan sendiri. Dan hobi ini lumayan bisa semakin mempererat “paseduluran.” Bila ada sedikit rejeki lebih, masak untuk porsi yang besar dan dibagi-bagi kepada teman dan saudara.

Beberapa teman sudah menyarankan untuk jualan. Hhmm, belum kepikir, tapi sebenarnya lumayan juga ya? Kalau iya, kalian mau beli? Hahaha..

Leave a Reply

Your email address will not be published.