Apa Yang Dilakukan Saat Pandemi Corona?

Tidak terasa sudah dua bulan lebih gerak kita dibatasi gara-gara pandemi corona. Berita tentang wabah penyakit yang selama ini hanya didengar dari media, akhirnya sekarang merasakan juga. Istilah yang sebelumnya jarang didengar, sekarang sering diucap oleh orang dimana-mana. Lockdown, social distancing, physical distancing hingga PSBB.

Masker yang dahulu hanya dipakai oleh orang-orang tertentu, sekarang menjadi atribut mutlak yang harus dikenakan. Bahkan penggunaan sabun mandi, baik cair maupun batang menjadi lebih boros karena punya kebiasaan baru mencuci tangan dengan benar.

Banyak kantor menerapkan work from home atau pengurangan jam kerja. Para siswa melakukan kegiatan belajar di rumah. Jalur transportasi dihentikan, bahkan beberapa wilayah menutup akses keluar dan masuk. Masyarakat dianjurkan untuk tidak keluar rumah. Lantas apakah semua orang siap dengan segala macam anjuran, himbauan dan larangan itu? Tidak. Banyak yang gagap dalam merespon peristiwa ini. Termasuk saya.

Di akhir bulan Februari saya masih sempat melakukan perjalanan ke Jawa Barat. Situasinya masih oke, meskipun wabah virus Corona di Cina sudah menjadi pembicaraan. Program Moekti Terapi Seni, pendampingan terhadap ABK di SLB Di Gunungkidul juga masih berjalan. Awal Maret saya sempatΒ  membantu teman-teman PKBI DIY menyelenggarakan festival. Saat itu sudah mulai krik.. krik.. hand sanitizer dan tempat cuci tangan disiapkan di beberapa sudut. Saya sudah berbekal masker ijo, meski masih terasa ribet sehingga main pakai dan lepas. Saling ragu berjabat tangan masih menjadi guyonan. Saya juga masih melakukan persiapan beberapa kegiatan yang rencana akan dilakukan di bulan itu.

Moekti Terapi Seni di SLB Krida Mulia III Gunungkidul

Dan boomm… wabah covid merambah ke seluruh dunia, termasuk Indonesia. Saya tidak mau bahas tentang sebenarnya virus itu sudah masuk Indonesia tapi pemerintah lambat meresponnya. Tapi yang pasti, setelah itu informasi penundaan kegiatan masuk hampir bersamaan. Ditunda hingga waktu yang belum jelas. Belum termasuk kegiatan yang sudah berjalan pun akhirnya dihentikan.

Persiapan dan harapan transferan jadi buyar. Lemes hahaha…

Imbas ecara ekonomi, jelas. Pekerja lepas seperti saya harus mulai atur strategi agar tetap hidup dari simpanan yang tidak seberapa. Memangkas pengeluaran yang tidak penting. Berat, tapi rasanya tidak fair bila saya mengeluh. Banyak yang lebih susah akibat wabah ini. Nasib para pekerja harian, buruh yang berkerja hari ini untuk makan hari ini. Para karyawan pabrik yang dirumahkan, atau bahkan terkena PHK. Pernah lihat di twitter, seorang ibu pedagang kaki lima menangis saat diminta tutup oleh satpol PP. Dilema. Di luar bisa mati terkena corona, tapi kalau hanya di rumah juga bakal mati karena kelaparan. Trus piye kui coba?

Terus, selama dua bulan ini ngapain? Saya benar-benar jarang pergi. Keluar rumah hanya sekedar saat cari makan. Setiap hari cuma tidur, nonton film, bongkar harddisk edit foto dan video, tiduran lagi sambil dengerin musik. Beberapa kali ikut meeting dan terlibat dalam diskusi, tapi semuanya virtual πŸ™‚

Bahkan saya tidak terlibat di kegiatan teman-teman yang bergotong royong membantu penyediaan APD bagi paramedis. Bukan gak mau, tapi saya takut. Lebay? Oke. Mungkin ini parno saya yang kebablasan. Umur yang sudah masuk kategori rentan terpapar, ditambah pola hidup dan makan yang tidak bagus, membuat saya memilih berhati-hati. Keluar rumah dan bertemu orang seperlunya saja. Jujur, saya memang takut. Maaf.

Tapi bukan berarti saya tidak perduli. Untuk teman-teman saya tetap siap diminta bantu membuat dokumentasi baju APD. Saya datang ke lokasi, melakukan pemotretan, kemudian sudah. Pulang dan melakukan editing di rumah. Ada juga aktivitas membuat desain poster dan baliho kampanye lawan corona. Semua tetap dikerjakan di rumah. Komunikasi bisa dilakukan secara online.

Pemotretan baju APD yang diproduksi PKBI, Majelis Mau Jahitin dan #JogjaLawanCorona

Sempat juga beberapa kali keluar rumah melakukan shooting untuk produksi beberapa film pendek, lagi-lagi tentang corona. Prosesnya sama, take satu film harus selesai dalam satu hari, kemudian diedit di rumah. Dengan jarang pergi, keuntungan tak langsung yang saya dapat adalah bisa hemat uang bensin. πŸ™‚

Semua informasi saya dapat hanya dari twitter, karena memang gak punya tv. Ada masa saya dulu rajin memantau berapa jumlah ODP, berapa yang positif hingga yang meninggal. Dulu saya juga rajin retweet update tentang corona di berbagai tempat. Beruntung jempol saya masih bisa menahan diri tidak ikut menghujat mr cloud si pak menkes itu.. πŸ˜€

Tapi semua itu sekarang cenderung saya tinggalkan. Saya bahkan jadi jarang buka twitter. Menghindari nemu berita yang bikin mangkel. Lebih asik nonton yang lucu-lucu seperti di instagram mapun tiktok. Iyes, saya belain bikin akun tiktok πŸ˜€

Bahkan karena kehabisan pilihan film, saya mulai mencoba nonton genre yang selama ini tak pernah saya lirik, yaitu drakor! hahaha

Macak sutradara abal2. Mohon abaikan perutnya..

Sudah dua bulan kita “dihajar” oleh corona, tanpa tahu pasti kapan akan selesai. Masih banyak orang ngeyel tetap keluar rumah, tanpa pakai masker dan tidak menjaga jarak. Yasudah, mungkin mereka punya alasan sendiri yang kita tidak tahu. Berharap saja semoga semua tetap aman, wabah ini segera usai, kehidupan bisa normal lagi.

Yang penting kita – atau minimal saya – mencoba menikmati budaya baru, di rumah saja, rajin cuci tangan, bila keluar memakai masker dan bertemu orang tanpa bersalaman.

Oiya, apakah kalian termasuk orang yang menghitung sampai 20 saat mencuci tangan? πŸ˜€

 

 

4 Replies to “Apa Yang Dilakukan Saat Pandemi Corona?”

  1. wahiki… drakor.. jangan2 ikutan nonton world of married couple :))

    saya termasuk orang yang dari dulu selalu pakai masker karena saya alergi debu. tergelitik dikit aja si hidung, udah langsung gebres tanpa henti. dan karena masalah kulit juga kudu bersihan. jadi udah terbiasa ama hand sanitizer, antiseptik dan sabun cair. ndilalah kok yo ada si kopid. jadi rebutan masker rebutan disinfectant dkk

    kalo saya pada dasarnya seorang introvert jadi dirumah aja ini beneran bak surga rasanya :)) gak capek-capek ketemu orang dan lika-likunya. enak tinggal chat doang. ada yang minta video call, saya alihkan ke voice notes aja dengan alasan “inet kita gak oke buat video call. mendingan voice notes” :))

    btw makasih udah mampir ke blog saya

Leave a Reply to aan Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *