Lamalera, Desa Pemburu Ikan Paus

Lamalera adalah desa nelayan yang ada di kecamatan Wulandoni, kabupaten Lembata, provinsi Nusa Tenggara Timur. Perjalanan darat menuju desa ini ditempuh kurang lebih sekitar tiga jam dari Lewoleba, ibukota kabupaten Lembata. Saat saya ke sana dua tahun lalu, medannya cukup berat sehingga hanya dimungkinkan menggunakan mobil dobel gardan. Semoga sekarang sudah lebih baik. Desa ini menjadi terkenal karena memiliki tradisi berburu ikan paus yang sudah berlangsung cukup lama.

Berburu ikan paus? Apakah mungkin berburu mamalia terbesar di laut yang masuk dalam daftar hewan yang hampir punah? Komisi Perpausan Internasional (International Whaling Commission – IWC) adalah yang mengatur dan menentukan kuota perburuan dan hal-hal yang berkaitan lainnya. Komisi ini sudah mendefinisikan perburuan paus di Lamalera sebagai perburuan tradisional yang masih diperbolehkan.

Selain itu, masyarakat nelayan di Lamalera juga memiliki ketentuan sendiri yang pantang dilanggar dalam melakukan tradisi berburu ikan paus. Mereka meyakini bahwa desa akan mengalami musibah bila pantangan dilanggar. Perburuan ikan paus hanya dilakukan antara bulan Mei sampai Oktober. Tidak semua jenis ikan paus boleh diburu, antara lain adalah paus yang sedang hamil atau paus biru yang memang disakralkan. Dan yang menarik, para pemburu hanya boleh menangkap paus menggunakan tombak.

Bagi mereka, paus adalah berkah dari Tuhan. Oleh sebab itu mereka tidak sembarangan berburu. Mereka hanya menangkap ikan paus seperlunya saja, bahkan tidak lebih dari 20 ekor dalam setahun, dan perburuan itu tidak untuk kepentingan komersial. Paus yang sering ditangkap adalah paus sperma (Physeter macrocephalus) atau mereka menyebutnya koteklema.

Perburuan ikan paus merupakan bagian dari tradisi yang diwariskan oleh leluhur mereka, dan sudah berlangsung selama ratusan tahun. Konon, tradisi ini dimulai sejak tahun 1500-an, bersamaan dengan berdirinya desa di ujung selatan pulau Lembata ini. Keahlian turun-temurun ini membuat mereka jeli memilih paus yang boleh diburu dan yang menjadi pantangan.

Perahu khusus untuk menangkap ikan paus disebut paledang. Perahu kayu tanpa motor, karena dikhawatirkan baling-baling bisa melukai paus. Perahu ini dikayuh oleh 6-10 orang, meskipun juga memiliki layar yang terbuat dari anyaman daun pandan. Paledang memiliki pijakan dari kayu di depan yang digunakan penombak berdiri dan bersiap menghujamkan tombak.

Alat perburuan lain adalah tempuling, yaitu tombak dari sepanjang 4 meter dari bambu dengan ujung besi tajam. Mereka juga menggunakan tali dari kapas yang dipintal dan dilumuri getah kulit pohon turi yang disebut leo. Konon tali ini sakral yang saat tidak dipakai akan digulung dan disimpan di rumah adat.

Selain aturan jenis ikan paus yang ditangkap, mereka juga memiliki beberapa aturan lain. Misalnya syarat menjadi seorang lamafa, atau juru tombak. Ia harus seorang laki-laki. Pada malam sebelum berangkat berburu ia tidak boleh berhubungan dengan istrinya, atau pada saat melaut tidak boleh memiliki masalah dengan istrinya. Konon bila pantangan itu dilanggar, mereka tidak akan mendapat ikan satu pun, atau malah akan mendapatkan musibah.

Sebelum berangkat melaut, diadakan semacam upacara adat. Istri dan keluarga berdoa agar suami, ayah dan saudara mereka senantiasa diberi keselamatan saat berburu ikan paus. Mereka sadar bahwa perburuan ini sangat beresiko tinggi, bisa hilang, bahkan mati. Setelah itu, tiga hingga empat paledang meluncur menuju lautan.

Lamalera menghadap langsung ke laut Sawu, yang menjadi perlintasan ikan paus saat bermigrasi. Di laut inilah mereka menghadang dan berburu. Saat terlihat gerombolan ikan paus, paledang segera meluncur ke arah gerombolan tersebut. Lamafa bersiap dengan berdiri di ujung depan kapal. Setelah medapatkan sasaran, ia segera melompat dan menghujamkan tombaknya ke arah batok ikan paus. Hal tersebut kadang harus dilakukan berulang-ulang hingga paus benar-benar mati.

Setelah perburuan selesai, ikan paus dibawa ke pantai. Masyarakat bergotong-royong memotong ikan menjadi kecil-kecil yang akan dibagikan ke semua warga. Bagi mereka, setiap lapis daging ikan paus tersebut terdapat hak janda dan anak-anak yang ditinggal mati bapaknya, juga hak laki-laki tua yang kehilangan anggota tubuh hingga tidak bisa lagi mencari “kehidupan” di laut lagi. Satu tradisi indah yang saling berkait antara spritiualitas dan relasi sosial.

Mereka berhitung, seekor paus dewasa yang beratnya antara 40 hingga 50 ton, bisa menjadi sumber pangan seluruh desa selama satu bulan. Selain dikonsumsi sendiri, daging tangkapan juga akan dibarter dengan warga desa di pegunungan yang membawa hasil bumi seperti jagung, pisang dan umbi-umbian. FYI, di Wulandoni terdapat pasar unik yang transaksinya tidak menggunakan uang, tapi saling menukar barang. Tradisi ini masih berlangsung hingga sekarang.

Indonesia sudah memasukkan paus sebagai satwa yang dilindungi dan terlarang untuk diburu. Bahkan, kini paus sperma sudah masuk dalam Red List IUCN 2018, yaitu daftar satwa berstatus rentan yang populasinya menurun. Meskipun Komisi Perburuan Paus Internasional mendefinisikan perburuan paus di Lamalera sebagai perburuan tradisional namun Indonesia sendiri justru belum memiliki peraturan yang memberikan definisi tentang “perburuan tradisional.” Jadi apakah para pemburu tradisional boleh menangkap ikan paus yang terancam punah?

Bagi nelayan Lamalera, berburu ikan paus tidak sekedar untuk dikonsumsi. Berburu ikan paus adalah tradisi yang telah secara turun-temurun dilakukan oleh leluhur mereka. Pemerintah mestinya mulai berpikir cermat mengenai perburuan paus secara tradisional ini. Tapi bukankah perburuan ini merupakan kearifan lokal? Entah hehehe…

 

 

4 Replies to “Lamalera, Desa Pemburu Ikan Paus”

Leave a Reply to aan Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *