Lakbok Ngaliwet : Peluncuran 13 Festival Berbasis Masyarakat

Sabtu, 22 Februari pagi, saya dan rombongan tiga mobil berangkat dari Jogja menuju Ciamis, Jawa Barat. Anggota rombongan ini tidak semuanya berasal dari Jogja. Ada yang datang dari Kalimantan, Sumatera Utara, Aceh, Sumatera Barat yang terbang ke Jogja dan berangkat bersama kami. Rombongan ini berangkat ke Ciamis bukan untuk memenuhi udangan resepsi nikahan, tapi untuk menghadiri acara Lakbok Ngaliwet yang diinisiasi oleh Jaringan Begawai Nusantara (JBN), didukung Yayasan Umar Kayam Yogyakarta.

Acara Lakbok Ngaliwet diselenggarakan di desa Sidaharja, Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Di desa Sidaharja ini juga menjadi lokasi penyelenggaraan Festival Layang Lakbok yang juga turut berjejaring di Begawai Nusantara.

Saya menangkap arti Lakbok Ngaliwet adalah makan nasi liwet di Lakbok. Memang ada agenda seperti itu, tapi yang lebih penting adalah peluncuran buku Berkunjung Ke Rumah Sendiri terbitan Yayasan Umar Kayam sekaligus pencanangan 13 Festival berbasis masyarakat yang masuk dalam JBN.

Buku Berkunjung Ke Rumah Sendiri yang ditulis oleh Heru Prasetia dan Dede Pramayoza ini berisikan proses perjalanan berbagai festival berbasis masyarakat yang termasuk dalam JBN beberapa tahun ini. Para penyelenggara festival berbasis masyarakat ini saling berkunjung dan berbagi pengalaman dan pengetahuan soal bagaimana festival berbasis masyarakat. Mereka berbagi tentang cara menyiapkan konten acara, artistik, pengelolaan tamu, hingga termasuk cara membuat paket wisata dan promosinya.

Kepala Desa Sidaharja dalam sambutannya sangat mengapresiasi adanya jaringan Begawai Nusantara ini. Karena terbukti (Festival Layang Lakbok) memberikan energi positif kepada masyarakat Sidaharja. Dalam dua kali penyelenggaraan, manfaat secara ekonomi sudah bisa dirasakan oleh masyarakat Lakbok, khususnya yang tinggal di desa Sidaharja. Keberadaan jaringan ini juga berkontribusi meningkatkan SDM masyarakat melalui seni dan budaya.

Sebelumnya kami seolah tak percaya dengan sebuah kegiatan kesenian dan kebudayaan bisa menjadi magnet banyak orang hingga berdampak pada pembangunan di desa kami. namun setelah para anak muda ini meyakinkan saya dan melaksanakannya, Alhamdulillah responnya luar biasa, bahkan Gubernur serta ribuan orang datang ke sini,” kata pak Kades.

Selain pak Kepala Desa, tampil pula berbicara antara lain Didon Nurdani (seniman lokal Ciamis), Marojahan Andrian Manalu mewakili Begawai Nusantara, Heru Hikayat dari Indonesiana, platform yang diberntuk Dirjen Kebudayaan, Kemdikbud RI dan Budi Kurnia (Dinas Pariwisata Kabupaten Ciamis). Hadir juga ketua DPRD Kabupaten Ciamis, Nanang Permana.

Acara Lakbok Ngaliwet dimulai pada sore hari dengan kegiatan “Ngobeng” atau mencari ikan di kolam bersama warga. Setelah itu dilanjutkan dengan bedah buku. Pada malam harinya dilakukan pemutaran pemutaran video kompilasi festival yang sudah berlangsung dan peluncuran 13 festival berbasis masyarakat yang akan digelar pada tahun 2020 ini.

Festival tersebut antara lain Festival Panen Kopi Gayo di Takengon Aceh, Tao Silalahi Art Festival di Silalahi Sumatera Utara, Legusa Fest, Sentak Art Fest, Festival Sabana dan Pasa Harau di Sumatera Barat, Festival Rimbang Baling di Kampar, Riau, Pesta Sungai Bokor di Kepulauan Meranti, Riau, Festival Damar Kurung di Gresik, Jawa Timur, Festival Garam di Sumenep Madura, Tabalong Ethnic Fest di Tabalong Kalimantan Selatan, Festival Bakcang di Pontianak Kalimantan Barat dan tentu saja Festival Layang Lakbok di Ciamis Jawa Barat.

Ternyata “ngaliwet” sudah menjadi tradisi orang Sunda yang telah lama ada. Penyajiannya menggunakan beberapa lembar daun pisang sebagai alas makan. Nasi serta lauk-pauk disebar merata dan orang makan bersama di alas itu. Menu yang sederhana pun akan terasa nikmat.

Selain makan bersama, masyarakat juga dihibur dengan kesenian angklung anak-anak desa Sidaharja, dan pada malam harinya ditutup dengan kesenian tradisional Ronggeng. Ada cerita lucu, seorang teman dari Kalimantan ikut “nyawer” dan menari. Tapi setiap selesai menari ia selalu saja didatangi oleh penari, dipanasi untuk nyawer lagi. Selidik punya selidik, ternyata sekali nyawer ia menggunakan duit lembaran limapuluh ribuan, sementara masyarakat pada umumnya paling senilai sepuluh hingga duapuluh ribu. Pantesan…

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *