Persiapan MOEKTI Seni Rupa 2020

Beberapa waktu lalu ditawari kesempatan untuk terlibat sebagai penulis dalam kegiatan MOEKTI Seni Rupa 2020. Apa itu? Moekti adalah singkatan dari mobil keliling terapi seni. Program ini diinisiasi oleh Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta. Kegiatan yang dimaksudkan untuk memenuhi hak anak penyandang disabilitas untuk mengembangkan diri serta mengoptimalkan seluruh kemampuan melalui media seni, khususnya seni rupa.

Tawaran yang sangat menarik ini tidak mungkin saya tolak. Jelas akan menjadi pengalaman baru, tentu saja akan belajar sesuatu yang baru pula. Jadi rencananya tiap seminggu sekali selama satu bulan akan berkunjung ke Sekolah Luar Biasa di Gunung Kidul. Empat SLB itu ada di kecamatan Panggang, Semanu, Ponjong dan Karangmojo. Saya sendiri “kebagian jatah” akan membantu di SLB Krida Mulia 3 di desa Ngeposari, kecamatan Semanu, sekitar 2 jam perjalanan dari kota Yogyakarta.

Kegiatan ini masih akan dilakukan bulan Maret 2020, namun beberapa persiapan sudah dilakukan, salah satunya mempersiapkan tim. Sesuai jumlah sekolah yang didampingi, ada empat tim. Setiap tim berisi sekitar 15 orang, terdiri dari fasilitator, observer, periset, penulis, dokumentasi, crew dan psikolog sebagai pendamping. Masing-masing memiliki tugas dan tanggung jawab sendiri, tetapi apapun tugasnya, kita tetap “dipersiapkan” untuk menghadapi anak-anak tersebut.

Pada 12-13 Februari, semua anggota tim dikumpulkan di LPP Garden Hotel Yogyakarta dalam kegiatan bertajuk Training of Trainer. Di situ psikolog memberikan penjelasan mengenai Terapi Seni (Art Teraphy) dan Therapeutic Communication. Sebagian besar anggota tim – termasuk saya – belum pernah berinteraksi secara sengaja dan langsung dengan ABK. Sebagian besar dari kami – tidak termasuk saya – adalah para mahasiswa, baik mahasiswa psikologi, mahasiswa pendidikan luar biasa dan bahkan mahasiswa seni rupa dari ISI. Dalam ToT ini kami diberi berbagai materi tentang bagaimana menghadapi dan menangani Anak Berkebutuhan Khusus.

Di situ juga dipertemukan dengan perwakilan guru dan orang tua siswa, sehingga bisa menimba pengalaman dan mendapat gambaran tentang anak-anak mereka.

Dari pertemuan itu saya jadi meyakini bahwa para guru sekolah luar biasa merupakan malaikat yang nyata di dunia. Hanya sedikit dari mereka yang berlatar belakang jurusan pendidikan luar biasa. Mereka hanya dengan ikhlas mendidik dan mendampingi anak-anak, yang dari ceritanya sungguh merepotkan dan membutuhkan kesabaran. Salah satu contohnya, dalam satu kelas ada anak yang tidak bisa dan tantrum bila mendengar suara musik yang keras, sementara ada temannya yang suka memutar musik dengan suara keras dan akan marah bila volumenya dikecilkan.

Sang guru menghadapi situasi seperti itu setiap hari. Saya tidak bisa membayangkan level kesabaran ibu guru itu. Saat saya tanya apakah tidak kerepotan, sang guru hanya menggeleng dan tersenyum. Ibu guru ini masih muda, belum ada 30 tahun. Masih memungkinkan untuk mencari pekerjaan “normal” lainnya. Sekali lagi saat saya tanya apa motivasi dia untuk menjadi guru sekolah luar biasa, jawabnya, “Ya pengen saja..

Bagi saya, para orang tua anak-anak tersebut adalah orang tua yang istimewa karena dianugerahi anak-anak yang istimewa. Mereka adalah orang-orang terpilih, kuat, sabar dan tegar sehingga Tuhan memberi titipan anak yang berbeda dari lainnya. Setiap hari, bertahun-tahun mereka membimbing dan membesarkan anak-anak tersebut. Banyak suka dan duka yang mereka sampaikan, serta harapan dan doa.

Selain sharing session, kami juga diminta untuk melakukan simulasi berbagai materi kegiatan seni yang akan digunakan besok saat pendampingan. Beberapa materi terapi seni rupa yang digunakan antara lain melukis menggunakan pensil, krayon dan cat air, membuat bentuk menggunakan plastisin, membuat mozaik dan sebagainya. Terlepas dari indah atau tidaknya hasil, kegiatan seperti itu adalah hal yang mudah bagi kita, orang dewasa.

Tetapi kami tetap diminta untuk menjalani prosesnya dan membayangkan potensi-potensi yang barangkali bakal terjadi saat mendampingi ABK. Kemudian kita mendiskusikan bagaimana cara mengatasi apabila hal tersebut benar terjadi. Tentu saja mengatasi dengan cara yang benar. Bukan semata-mata menggunakan kata, jangan atau tidak boleh dan sebagainya. Sungguh ilmu baru yang sangat berharga.

Seni sebagai terapi dipercaya dapat menyelesaikan konflik emosional dan meningkatkan kesadaran diri. Dalam psikoterapi seni, seni menjadi alat komunikasi. Terapi seni dapat digunakan untuk asesmen dan intervensi dalam menghadapi kecemasan, depresi dan masalah emosional lainnya. Pada Moekti Seni Rupa, fasilitator hanya bertugas mendampingi proses terapi ini. Para observer bertugas memantau progress si anak sejak awal hingga proses terapi seni berakhir. Analisa secara klinis/ akademis hanya bisa dilakukan oleh psikolog yang memang belajar mengenai ini.

Nah, siapakah anak yang berkebutuhan khusus? Mereka adalah anak-anak yang memiliki kemampuan berbeda dari anak pada umumnya, baik di atas maupun di bawah normal. Mereka juga memiliki kebutuhan khusus dalam belajar, berperilaku, kemampuan fisik, kemampuan sensoris, kemampuan berbicara dan keberbakatan. Pada tingkatan tertentu membutuhkan pendidikan khusus secara individual.

Selama dua hari tim diberi gambaran dan dilatih secara singkat, dipersiapkan untuk menemani ABK dengan berbagai macam latar belakang dan perilaku. Kami harus siap bila dicuekin atau malah diteriakin, dipukul, dilempar, atau membersihkan air liur yang menetes, atau bahkan yang menetes di tubuh kita. Kami harus menyingkirkan segala ketidaknyamanan saat berinteraksi dengan mereka. Kalau para guru itu bisa, tentunya kami juga akan bisa. Semoga.

Minggu depan keempat tim akan mulai melakukan asesmen ke sekolah masing-masing. Semoga saya sempat berbagi proses itu di sini.

 

 

Leave a Reply