Di Balik Layar Content Creator Fest 2018

Berawal dalam obrolan iseng saat ngopi bersama teman-teman, mensikapi kondisi media sosial yang sudah sangat parah, tentang sosmed yang kebanyakan berisi hujatan, fitnah dan materi-materi yang tidak mendidik dan tidak dapat dipertanggung jawabkan. Dari situ muncul gagasan membuat wadah untuk mengembalikan sosial media menjadi media bersosialisasi yang menyenangkan dan lucu.

Gayung bersambut. Tak disangka ide iseng ini direspon positif oleh Asdep Partisipasi Media Kementerian PPPA. “Sudah, dibuat proposalnya trus kita ngobrol.”
Berbekal draft proposal yang sebenarnya hanya coret-coret yang di-ppt-kan, kami berangkat ke Jakarta untuk presentasi. “Ya mas, kita dukung tapi bisa nitip kampanye program kita?” Wajelas bisa sekali. Akhirnya muncul nama Festival Media Komunitas meskipun yang muncul di luar menjadi Content Creator Fest 2018.

Content Creator Fest 2018 mencoba untuk mengurangi dampak negatif dari sosial media. Target peserta adalah generasi milenial atau generasi Y yang dianggap sudah familiar dengan teknologi. Dalam kegiatan ini diharapkan peserta bisa saling belajar dan sharing pengetahuan tentang cara kreatif memproduksi konten untuk sosmed. Tentu saja juga kampanye tentang perlindungan anak dan perempuan sesuai dengan titipan kemen PPPA. Konsep yang dibuat adalah diskusi serius tapi nyantai, diramaikan dengan bazaar dan food truck, serta pertunjukan musik. Materi berat bila disajikan secara ngepop tentunya menyenangkan.

Dana dari mana? Dalam budaya Jawa dikenal istilah “urunan” atau “bantingan” yang artinya kurang lebih saling berbagi yang mereka punya. Dalam melaksanakan kegiatan ini prinsip dan nilai yang dikedepankan adalah gotong royong, berbagi dan terbuka. Ada yang berbagi ilmu, ide, tenaga maupun materi.

Kami mulai berbagi tugas, mengajak teman-teman dari berbagai komunitas maupun pribadi, juga pelaku industri kreatif, akademisi, budayawan dan sebagainya. Niat baik tentu saja banyak yang mendukung. Tak disangka beberapa individu maupun lembaga yang tak terpikir justru menghubungi kita, pengen gabung. Wahaha.. bahkan saat diminta jadi narasumber tidak hanya sekedar bersedia namun bahkan menawarkan bantuan bila dibutuhkan. Kalau boleh buka-bukaan di sini, semua pembicara itu gak ada yang dibayar, bahkan yang dari Jakarta tiket mereka juga beli sendiri. Sebagian ada yang bayar hotel sendiri, sebagian memang dibayarin panitia yang duitnya dari pembicara yang lain. Hahaha… Sungguh masih banyak orang yang baik dan menyenangkan. Siapa saja mereka bisa dilihat di sini.

Acara yang awalnya mau dibuat sederhana tiba-tiba terpaksa harus lebih besar. Mulai pusing memikirkan lokasi setelah venue yang diharapkan ternyata sudah digunakan untuk event lain. Kita tetap bersikukuh bahwa acara harus digelar di tempat terbuka tapi tidak panas, ada halaman luas untuk bazaar dan food truck juga space untuk panggung pertunjukan. Setelah berhari-hari tim muter Jogja akhirnya tepilih loksi di Kampoeng Mataraman, satu restoran alam di Jogja selatan. Resto ini memiliki joglo-joglo kecil untuk diskusi dan ada halaman luas di belakang untuk stage. Masalah belum selesai. Mereka tidak mengijinkan ada food truck di area. Bener juga sih, saingan. Tapi kita juga tidak bisa membatalkan perjanjian dengan komunitas food truck dong.. Yasudah, solusinya saat itu, “tak bayar wes, mbak..” Seluruh resto diblock, dipakai full untuk kegiatan. Duitnya embuh ntar dipikir belakangan. Setelah itu satu minggu penuh teman-teman saya tinggal keluar kota.

Tepat seminggu sebelum pelaksanaan, saya pulang ke Jogja dan masih banyak yang acakadut. Tapi tentunya banyak pula yang sudah jalan baik dan tertata rapi dong.. Masa-masa hectic dimulai. Setiap hari berangkat pagi pulang ke rumah nyaris pagi. Bersama teman-teman volunteer dari ISI Yogyakarta, UGM, UNY, UMY dan perguruan tinggi yang lain kami saling bekerja sama menyiapkan kegiatan. Dalam setiap event, yang namanya miskoordinasi, miskomunikasi, panitia ngilang dari tugas, baper dan sebagainya selalu ada. Namun beberapa kali jadi pembantu volunteer di berbagai kegiatan membuat semakin mudah memprediksi bagian-bagain mana saja yang bolong dan harus dibenahi. Melihat keseriusan teman-teman volunteer yang lain menjadi semacam obat capek.

Hari H. Cukup bersyukur ketika mendapat kabar bahwa ibu menteri mendadak dipanggil presiden sehingga tidak jadi datang. Satu keribetan protokoler bisa disingkirkan. Beberapa masalah muncul, ada yang harus diem-diem ditangani sendiri biar gak bikin panik,  namun ada juga masalah yang dishare dan bisa ditangani dengan baik oleh teman-teman.  Semua bisa menjadi pelajaran, baik bagi saya pribadi maupun teman-teman yang lain. Mengatasi masalah dengan taktis, cepat namun tidak grusa-grusu. Beruntung semua hal yang berhubungan dengan emosi, mangkel dan sebel sudah ditinggal di rumah. Jadi ngadepin persoalan di lapangan mainnya akal dan logika. Meski anu ding.. sempat ngomel dikit 😀

Content Creator Fest 2018 akhirnya bisa berjalan dengan baik. Laporan juga sudah kelar. Terima kasih yang sangat super kepada semua teman relawan yang bekerja keras dari persiapan hingga pelaksanaan kegiatan. Jadi nambah pengalaman, pertemanan dan jaringan. Kalian keren!

Dua hari ini masih sore saya sudah di rumah. Rasanya jadi aneh.. 😀

 

Advertisements

2 comments

Leave a Reply to ysalma Cancel reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s