Masyarakat Juga Bisa Bikin Festival

Berbicara tentang pariwisata di Indonesia memang tidak ada habisnya. Negara kita ini memiliki banyak kawasan indah yang menarik untuk dikunjungi, baik pantai, pegunungan, hutan pedalaman termasuk juga cagar budaya, seni tradisi dan kuliner khas yang layak untuk dinikmati.

Dengan datangnya wisatawan tentu saja berimbas positif pada pendapatan negara. Bahkan saat ini pariwisata menjadi sumber pendapatan negara andalan dan ditargetkan akan menjadi penyumbang devisa terbesar di tahun 2019. Dalam usaha merealisasikan target ini Kementerian Pariwisata berupaya mengolah berbagai potensi di daerah menjadi destinasi wisata baru dan diandalkan. Salah satunya adalah festival. Terbukti Kementerian Pariwisata mencanangkan 100 wonderful event Indonesia yang semuanya berbentuk festival.

Ini adalah peluang. Banyak tradisi atau ritual rakyat yang dikemas ulang menjadi festival untuk mengundang wisatawan. Besar atau kecil skala festival ini, tentunya membutuhkan orang-orang yang mampu mengatur dan mengelola kegiatan ini sehingga menjadi suguhan yang menarik untuk didatangi dan ditonton. Untuk menyelenggarakan suatu kegiatan yang baik tentunya perlu dikerjakan oleh para profesional. Mereka lazim disebut sebagai event organizer.

Dalam menyelenggarakan festival di suatu daerah, mereka datang, melakukan survey, perencanaan yang matang, baik dari segi produksi maupun konten, hingga strategi promosi yang tepat agar festival ini berhasil dikunjungi orang banyak, yang tentunya akan menghasilkan keuntungan yang banyak pula. Di mana posisi penduduk di daerah yang ketempatan kegiatan ini? Rata-rata mereka hanya berperan menyajikan kesenian mereka dan dibayar secukupnya, atau mencoba meraih rejeki dari jasa parkir dan berjualan air mineral, namun lebih banyak lagi yang hanya menjadi penonton.

Miris sekali. Masyarakat secara historis adalah “pemilik” kawasan yang indah termasuk seni budayanya. Seandainya budaya tersebut dieksploitasi, bahkan dikomersilkan, tentunya merekalah yang berhak mendapatkan porsi keuntungan yang paling besar. Untuk itu perlu adanya pemberdayaan masyarakat, mengajari mereka mengelola potensi seni dan budaya daerahnya yang dikemas menjadi kegiatan budaya, yang hasilnya bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat itu sendiri. Bahasa kerennya adalah festival budaya berbasis masyarakat.

Upacara cukur rambut gimbal – DCF

Salah satu contoh keberhasilan festival budaya berbasis masyarakat adalah Festival Budaya Dieng yang di-rebranding menjadi Dieng Culture Festival. Kegiatan ini berawal dari upacara ritual cukur rambut gimbal di dataran tinggi Dieng, yang dimeriahkan dengan beberapa kesenian tradisional setempat. Acara ini hanyalah acara lokal yang sederhana dan dinikmati oleh orang lokal saja. Pada tahun 2013 beberapa teman mulai menemani masyarakat mengolah acara ini menjadi satu kegiatan besar yang harapannya akan semakin meningkatkan jumlah wisatawan yang berkunjung ke Dieng.

Berbagai upaya dilakukan untuk mengemas ulang upacara ini menjadi prosesi yang “layak jual.” Menambahkan acara menerbangkan lampion, pesta kembang api dan pertunjukan musik Jazz Atas Awan menjadi satu rangkaian Dieng Culture Festival terbukti menjadi strategi yang tepat. Masyarakat didampingi dalam mengemas paket wisata, melakukan promosi online dan dihubungkan dengan para pemangku kepentingan, termasuk kementerian Pariwisata dan travel agency.

Setelah sekian tahun berjalan, berdasar survei, perputaran uang dalam waktu 3 hari pada DCF tahun 2015 mencapai 12 milyar lebih. Nilai yang sangat besar bagi masyarakat di dataran tinggi Dieng. Ini adalah buah dari usaha mereka. Proses pendampingan ini terus berlangsung dan secara perlahan dilepas agar mereka bisa mandiri. Dieng Culture Festival 2018 adalah festival yang 100% dikelola oleh masyarakat Dieng.

Bersama teman2 di lembah Harau. Kami sebaya…

Contoh lain juga dilakukan teman-teman di lembah Harau Sumatera Barat, di Takengon, Aceh Tengah, Lakbok di Ciamis juga di Kepulauan Anambas.
Apakah proses pendampingan itu mudah? Tentu saja tidak. Yang pertama dijumpai dan sangat wajar adalah sikap curiga dari masyarakat lokal terhadap para pendamping. Dibutuhkan waktu untuk bisa berkomunikasi dan memberi pemahaman terhadap mereka. Kendala lain ditemui adalah adanya friksi internal di antara mereka sendiri. Yang paling klasik adalah perbedaan pendapat dan kemauan antara kaum muda dan para orang tua. Atau kadang yang membuat frustasi adalah ketidakpedulian masyarakat terhadap program. Ini jauh lebih parah dari tidak pedulinya pemerintah setempat. Dan masih banyak masalah besar maupun kecil lain, yang kadang nyebelin dan mengecilkan hati para pendamping.

Kreasi lampion dari pelampung – Anambas

Live in atau tinggal menyatu bersama mereka adalah satu cara yang tepat. Dengan tinggal bersama mereka, kita bisa mengenal dan mempelajari situasi sehingga faham bersikap. Kecuali kalau memang masyarakatnya “ndableg.” Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Treatment yang pas dilakukan di satu daerah belum tentu pas juga diterapkan di daerah lain. Oiya, memanfaatkan dukungan dari tetua adat atau kepala suku cukup membantu. Sebandel-bandelnya orang, mereka tetap tunduk pada perintah tetuanya. Yang paling menyenangkan tentunya bila masyarakat menerima terbuka dan mau belajar, serta didukung oleh pemerintah daerah, bahkan difasilitasi. Waaa…. 😀

Masyarakat di manapun yang memiliki potensi seni budaya yang mendukung pariwisata berhak memiliki dan mengelola festival mereka sendiri. Bukan sekedar menonton kekayaan budaya mereka dijual orang lain (no offense buat para organizer ya..). Masyarakat seperti ini perlu dukungan untuk belajar tata kelola festival dan menjadi bagian dari industri pariwisata di Indonesia dan berhak pula menikmati hasilnya.

Ada yang pernah bertanya, apa keuntungannya menemani masyarakat seperti itu,? Kata teman saya, keuntungannya adalah bisa dolan kemana-mana 😀

 

 

Advertisements

5 comments

Leave a Reply to Justisia Nita Cancel reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s