Ragam Keindahan Pulau Jemaja di Kepulauan Anambas

Kepulauan Anambas, tak bisa dipungkiri telah menjadi destinasi wisata baru yang sexy dan mulai dilirik oleh para wisatawan, baik domestik maupun manca negara. Alam laut yang menawan dan seni budaya yang indah menjadi aset sempurna untuk meningkatkan sektor pariwisata di kabupaten yang masuk wilayah provinsi Kepulaun Riau ini.

Menuju Kepulauan Anambas bisa menggunakan pesawat atau kapal cepat dari Batam maupun Tanjung Pinang. Di kabupaten ini ada dua bandara, yaitu bandara Letung di pulau Jemaja yang digunakan oleh maskapai Wings Air dari Batam setiap hari Senin, Rabu dan Jumat. Bandara kedua ada di pulau Matak. Bandara ini milik Medco Energi yang digunakan untuk keperluan operasional perusahaan tersebut, namun di sini ada maskapai Express Air yang melayani penerbangan dari Tanjung Pinang setiap hari Senin hingga Sabtu.

Sedangkan pelabuhan besar ada di Letung di pulau Jemaja dan di Tarempa di pulau Siantan. Dari kedua pelabuhan ini bisa menggunakan kapal ferry ke Tanjung Pinang atau kapal cepat menuju Batam. Saat ini pintu gerbang menuju ke Anambas memang baru dua pilihan, melalui Batam atau Tanjung Pinang. Semoga maskapai lain tertarik membuka penerbangan ke sini sehingga Anambas semakin mudah (dan murah) diakses.

Saya cukup beruntung boleh nebeng pesawat carter Medco Energi menuju bandara Matak langsung dari Halim Perdanakusuma Jakarta. Jadi tidak perlu pakai acara ribet harus terbang ke Batam dan naik kapal cepat selama 8 jam. Lumayan..

Jadi, setelah beberapa hari menginap di desa Belibak, akhirnya pagi-pagi kami naik speedboat menuju Tarempa, ibukota kabupaten Anambas di pulau Siantan. Sekitar 30 menit perjalanan, sampailah kami di pelabuhan Tarempa. Masih sempat sarapan dan menikmati secangkir kopi, kami bersiap menempuh perjalanan menggunakan kapal cepat untuk menuju pulau Jemaja.

Pelabuhan Tarempa

Kondisi laut yang tenang membuat kapal melaju cepat, sekitar 2 jam kami sudah berlabuh di pelabuhan Letung. Pemandangan pantai yang indah seakan menjadi ucapan selamat datang di pulau Jemaja. Di bibir pelabuhan bakal betah berlama-lama melihat air laut yang bening, dihiasi terumbu karang dan ikan berwarna-warni yang berenang ke sana-kemari. I did this, hihi..

Pantai Padang Melang adalah tujuan kami. Pantai Padang Melang memiliki garis pantai sepanjang tujuh kilometer tanpa putus, konon menjadi pantai terpanjang kedua di Indonesia. Pantai ini masih sepi, hanya ramai pada saat akhir pekan atau liburan. Kondisi ini membuat kebersihan pantai masih terjaga. Bentangan pasir putih dan air laut yang jernih, jajaran pohon kelapa diselingi pohon cemara serta lingkungan yang masih asri membuat tempat ini seperti surga bagi penikmat alam. Saat itu ada beberapa yacht dari Australia berlabuh di sana seakan memberi bukti bahwa pantai ini layak dikunjungi.

Aktifitas apa yang bisa dilakukan di pantai padang Melang? Selain berjalan menyusuri pantai yang panjang, tentu saja mandi di laut. Penduduk di sana menyebutnya mandi air asin. Selain itu pengunjung bisa bermain kano yang memang disewakan di sana. Bagi yang suka makanan aneh wajib mencicipi siput gonggong (Strombus canarium) yang banyak dijual di sana. Rasanya kenyal aneh tapi enak. Katanya sih.. karena saya enggak ngicipin. Di pantai ini pula setiap tahun pemerintah kabupaten Kepulauan Anambas menggelar Festival Padang Melang, perhelatan budaya Melayu pesisir.

Tapi keindahan pulau Jemaja tidak hanya di pantai Padang Melang. Kita bisa menggunakan kapal pongpong menyeberang ke beberapa pulau kecil yang tersebar di kawasan itu. Oiya, yang mesti diperhatikan adalah biaya sewa pongpong yang cukup mahal. Pemilik kapal minta biaya 800 ribu-1 juta untuk mengantar ke pulau-pulau yang sebenarnya jaraknya relatif dekat. Sekali lagi saya cukup beruntung karena berkenalan dengan bang Adi yang baik hati menawarkan kapalnya untuk dipakai ke mana saja tanpa biaya. Modal beli solar 50 ribu sudah bisa kemana-mana. Dua kali saya memanfaatkan kapal ini, berputar mengelilingi pulau-pulau di sekitar Padang Melang.

Salah satu yang saya datangi adalah pulau Ayam. Butuh waktu sekitar 30 menit untuk sampai ke sana. Pulau kecil yang sepi, dengan aneka macam burung laut yang tinggal di sana. Saya sempat melihat kupu-kupu yang terbang melintasi teluk keci di pulau itu. Beruntung lagi, kami menemukan jejak penyu yang baru saja bertelur di pantai. Jejaknya saja, karena bila ingin melihat penyu bertelur mesti nungguin di malam hari. Sayangnya masih banyak orang yang tidak perduli menggali pasir dan mengambil telur-telur penyu untuk disantap. Tindakan ini menghilangkan proses keberlanjutan populasi penyu laut yang memang sudah sangat sedikit. Hadeh..

Di pulau-pulau ini, agenda utama tentu saja snorkeling. Maaf, aktifitas ini harus dimanfaatkan dengan baik bagi saya orang udik yang gak bisa lakukan itu di kampung saya di Jogja. Cahaya matahari pagi seakan menerangi alam bawah laut yang indah membantu kami untuk berburu gambar ikan nemo. Saya cukup beruntung bisa melihat satu keluarga nemo di rumpun karang dan betapa sibuknya sang ortu nemo mengusir ikan lain yang berniat masuk ke teritori dia. Cakep!

Saya juga sempat belajar menjadi tekong alias pengemudi pongpong. Kegiatan sederhana namun tidak mudah. Menggunakan tangan kiri menahan kemudi untuk menjaga arah kapal yang sering oleng bila dihantam ombak. Tangan kanan mengatur kestabilan kecepatan kapal. Caranya dengan menarik tali senar untuk menambah kecepatan atau mengendorkannya bila ingin mengurangi kecepatan. Tegang tapi menyenangkan. Pencapaian saya adalah berhasil membawa pongpong dari pulau Ayam hingga pantai Padang Melang, meski sesampai di dermaga saya kesulitan untuk memarkir kapalnya. Lihat di sini ya hahaha….

Masih banyak lagi destinasi wisata di pulau Jemaja, misalnya pantai Kusik, Batu Berapit, Landak dan sebagainya yang masing-masing memiliki kekhasan wisata bahari. Jangan dilewatkan juga desa Mampok yang memiliki seni tradisi khas yaitu Mendu dan tari Gobang.

Gugusan kepulauan di Anambas merupakan aset yang musti dijaga. Selain keindahan alam dan seni tradisinya, kawasan ini (khususnya di Natuna) juga memiliki kandungan gas yang cukup besar. Lokasinya yang berada di wilayah terluar, bahkan seakan di tengah laut luas yang diapit semenanjung Malaka dan Sarawak di pulau Kalimantan membuat kepulauan ini semacam permata yang terbukti ingin dimiliki oleh negara lain. Kalian rela?

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s