Tentang Komunikasi

trompet

Ada sepasang suami istri yang sedang berada di dapur. Suatu saat sang istri yang sedang meremas parutan kelapa untuk mendapatkan santan, tiba-tiba merasa enggak enak badan lantas beringsut menuju kamar sembari berkata pada suaminya, “Pak, aku rebahan dulu nanti tolong bantu punyaku diremas-remas ya..”

Bila ada orang di depan mereka berdua dan mendengarkan percakapan tersebut, mungkin akan paham maksudnya. Namun, bila orang yang mendengarkan tanpa melihat apa yang terjadi, mungkin akan berpikir macam-macam, bahkan mikir saru. Mungkin.. 😉

Agar memahami suatu statement atau pembicaraan, idealnya diungkapkan dan didengarkan secara utuh. Bayangkan saja, betapa berkeringat dingin seseorang yang mendengarkan percakapan suami istri tersebut tanpa tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi. Gagal paham.

Ada satu cerita, kejadian lama, ketika saya diwasap oleh teman, tentang sejumlah daftar kebutuhan kantin yang harus dibelanjakan. Satu hal yang aneh, karena belanja bukanlah tugas saya. Namun tak apalah. Tanpa konfirmasi, saya sempatkan untuk belanja-belanji berbagai kebutuhan tersebut. Selesai belanja segera saya antar ke kantin. Apa yang terjadi? Di sana sudah ada sejumlah barang belanjaan yang sama persis dengan yang baru saja saya beli. Dobel deh… Ternyata setelah akhirnya kami bertemu, wasap yang dikirimkan ke saya niatnya sebagai pemberitahuan, in case si Bagas yang biasa belanja minta duit ke saya. Yang terjadi, si Bagas belanja menggunakan kas yang ia pegang.

Informasi yang diberikan tidak utuh dan jelas akan beresiko pada penangkapan yang berbeda, maksud tidak bisa tersampaikan dengan baik.

Esensi komunikasi yang baik adalah bagaimana sebuah pesan tersampaikan dan mendapatkan respon yang baik. Apa yang disampaikan dengan jelas dan utuh akan dipahami dengan baik pula. Informasi yang diberikan atau diterima tidak utuh tentunya akan menghasilkan respon yang tidak baik. Contohnya ya di atas itu. Coba saja yang disampaikan adalah potongan ayat yang tidak lengkap dalam kitab suci? Tentunya bahaya itu.. 😀

Waduh entah kenapa saya jadi nulis gini? Sudahlah, mungkin aku harus piknik. Sekian.. -___-

Katanya itu gambar bunga amarilis.. bentuknya kayak trompet. Cocok jadi ilustrasi tulisan ini gak sih?

0 Replies to “Tentang Komunikasi”

  1. ya karena tiap manusia memiliki persepsi yang berbeda. sesuai dengan esensinya seorang manusia, bahwa manusia itu diciptakan unik, tidak satu sama yang lainnya. oleh karenanya ketika berkomunikasi hendaknya dengan jelas dan lugas..hehe

      1. Salah satu hal yg kupelajari dari bahasa jepang adalah mereka selalu mengkonfirmasi akan suatu pernyataan dan pertanyaan. Jadi biar gak salah persepsi.

        Akupun sekarang begitu… kalo disuruh bos “tut.. kamu lakukan a terus b dan c ya..” pasti kujawab “baik bu/pak. Nanti saya lakukan a, b dan c. Begitu pak/bu?”

        Aq gak mau salah persepsi. Bikin runyam..

Leave a Reply