Prajurit Kraton Yogyakarta

Sebagai hasil dari Perjanjian Giyanti tahun 1755, maka berdirilah Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat yang menguasai sebagian dari wilayah kerajaan Mataram. Untuk menjaga kedaulatan, maka Sri Sultan Hamengkubuwono I membentuk kesatuan prajurit yang terdiri atas pasukan-pasukan infanteri dan kavaleri. Pasukan ini tidak terlepas dari keberadaan prajurit dan laskar pendukung setia Pangeran Mangkubumi yang kemudian bertahta sebagai Sultan Hamengku Buwono I.  Pasukan ini bersenjatakan bedil dan meriam disamping berbagai senjata tradisional seperti pedang, tombak dan panah.

Ketangguhan prajurit Kraton Yogyakarta teruji dan terbukti saat terjadi Geger Sepoy di mana terjadi pertempuran sengit melawan tentara Inggris di tahun 1812. Meskipun akhirnya kraton bisa dikuasai dan Sultan Hamengkubuwono II dibuang ke Penang, namun prajurit kraton Yogyakarta ini sempat memberikan perlawanan yang cukup merepotkan tentara Inggris yang dipimpin oleh Kolonel Gillespie.

Setelah dikuasai oleh Balatentara Inggris, kekuatan bersenjata kasultanan Yogyakarta menurun drastis. Pada bulan Oktober 1813 ditandatangani perjanjian politik antara Thomas Stamford Raffles dan Sultan Hamengku Buwono III,  bahwa Kasultanan Yogyakarta tidak lagi dibenarkan memiliki angkatan bersenjata yang kuat.  Di bawah pengawasan Pemerintahan Kompeni Inggris, keraton hanya boleh memiliki kesatuan-kesatuan bersenjata yang lemah dengan jumlah personil terbatas sehingga tidak memungkinkan lagi untuk melakukan gerakan militer.

Pada masa-masa awal pendudukan tentara Jepang tahun 1942, Sultan Hamengku Buwono IX membubarkan semua kesatuan bersenjata di Keraton Yogyakarta, untuk menghindari keterlibatan para prajuritnya dalam Perang Asia Timur Raya. Baru pada awal tahun 70-an, keberadaan pasukan tradisional ini dihidupkan kembali untuk melengkapi berbagai upacara adat di Kraton Yogyakarta.

Saat ini, di bawah Pengageng Tepas Kaprajuritan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat terdapat 10 bregada prajurit, yaitu : Prajurit Wirobrojo, Prajurit Dhaheng, Prajurit Patangpuluh, Prajurit Jogokaryo, Prajurit Prawirotomo, Prajurit Nyutro, Prajurit Ketanggung, Prajurit Mantrijero, Prajurit Bugis dan Prajurit Surokarso.  Pucuk pimpinan tertinggi keseluruhan bregada prajurit Keraton disebut Manggalayudha.

Berikut adalah foto-foto prajurit yang diambil saat menjelang upacara Grebeg Syawal 2011 dan Grebeg Mulud 2012.

.

Manggalayudha melakukan inspeksi
Prajurit Wirobrojo
Prajurit Dhaeng
Prajurit Patangpuluh
Prajurit Jogokaryo
Prajurit Prawirotomo
Prajurit Nyutro
Prajurit Ketanggung
Prajurit Mantrijero
Prajurit Bugis
Prajurit Surokarso

.

26 Replies to “Prajurit Kraton Yogyakarta”

  1. Welcome! Thank you for subscribing to follow my blog. I hope you are encouraged, inspired and enjoy the photos I take of life events as seen through the lens of my camera.
    BE ENCOURAGED! BE BLESSED!

    1. Thank you for stopping by..
      Honestly, after I saw your picture, then I imagined to sit on the front porch of your house, doing with my laptop while enjoying a cup of coffee. I think I would be smarter after seeing the peaceful view there.. 🙂

      Regards,
      Aan

    1. Hi Jennifer, thanks for stopping by..
      Oh, I am really sorry about the language. I think I should encourage myself to write more in English (wih my messy English, of course), hope could be understood by all..

      Regards,
      Aan

  2. salah satu kota yang bikin saya pengen balik…balik…balik…dan balik lagi…. **eh, baru inget kalo baru dua kali ke jogja tp knp kata baliknya sampe berkali2 begini**

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *