Perjalanan Menuju Ranau

Propinsi Lampung di ujung timur pulau Sumatera memiliki topografi yang cukup unik. Di sisi timur merupakan dataran rendah berbatasan dengan laut Jawa, sedangkan di sisi barat terbentang rangkaian panjang pegunungan Bukit Barisan yang berhadapan langsung dengan  samudera Indonesia. Propinsi Lampung dengan ibukota di Bandar Lampung, merupakan gabungan dari kota kembar Tanjungkarang dan Telukbetung.

Danau Ranau di Lampung Barat menjadi tujuan utama perjalanan kali ini. Berbekal informasi yang minim dan selembar peta, kami berangkat dari Bandar Lampung sekitar pukul 08. 00 WIB. Jalan yang relatif sempit, hanya cukup untuk berpapasan dua kendaraan pagi itu sudah terlihat ramai.

Menyusuri jalur trans Sumatera ke arah Palembang, kendaraan tidak bisa melaju cepat karena kondisi jalan yang rata-rata bergelombang. Laju kendaraan lebih dikurangi lagi saat memasuki perkampungan karena jalanan yang relatif kecil dan dipenuhi dengan berbagai kendaraan yang menjadikan ruas jalan makin terasa lebih sempit. Melewati kabupaten Pesawaran dan Lampung Tengah hingga sampai kota Terbanggi Besar kendaraan berbelok arah ke kiri menuju Liwa, ibukota Lampung Barat.

Di sini jalanan relatif lebih sepi, pemandanan juga mulai lebih menarik. Perkampungan dengan model rumah adat Lampung, perkebunan kelapa sawit, kopi dan  hutan jati menjadi pemandangan sepanjang perjalanan. Di daerah Kotabumi Selatan ditemukan rumah adat yang masih asli dan kami sempat berhenti. Sayang, meski pintunya terbuka namun rumah tersebut sepi sehingga tidak memungkinkan bagi kami untuk mengambil gambar bagian dalamnya.

Pengen masuk dan motret, tapi gak kesampaian.. 🙁

Jalan mulai menanjak, pertanda sudah memasuki kawasan pegunungan Bukit Barisan. Hawa juga mulai terasa dingin. Namun rasa lelah di perjalanan terobati dengan pemandangan yang sangat eksotis, apalagi bagi yang sehari-hari biasa berada di jalanan yang macet di daerah perkotaan. Perkampungan penduduk mulai jarang dan bila ada, yang ditemui adalah bentuk-bentuk rumah tradisional meskipun telah direnovasi di sana-sini. Bentuk rumah adat Lampung adalah berupa rumah panggung yang memanjang. Namun rumah-rumah tersebut sekarang hampir semuanya tidak berujud panggung lagi karena ruang kosong di bawah sudah dimodifikasi atau dibangun dengan tembok permanen. Dan saat melintas di perkampungan ini, tidak ada salahnya untuk berhenti sejenak  dan berfoto, yang lokasinya berada di sekitar Way Tenong, Sekincau, Belalau ataupun di Batu Brak. Seperti di kecamatan Batu Brak ini, disana terdapat satu rumah adat besar yang disebut Gedung Dalom Buay Pernong, dan konon rumah ini sudah berumur sekitar lima abad, sebuah warisan budaya yang patut diabadikan.

Jalannya ngeri tapi asik.. 🙂

Pukul 15.00 kami mencapai kota Liwa. Ibukota Lampung Barat  ini cukup bersih dan tenang. Berada di ketinggian 1000 meter dpl membuat suhu di kota ini terasa dingin. Di sini tempat yang tepat untuk beristirahat makan siang dan mengisi bahan bakar kendaraan. Di kota ini, perjalanan berbelok ke kanan menuju Sukau. Menurut pemilik warung tempat kami makan, perjalanan menuju danau Ranau tinggal satu jam lagi.

Jalanan menanjak dan berkelok, dengan hutan di kiri kanan, ditambah awan mendung yang menggantung membuat perjalanan terasa mencekam. Namun sekali lagi keindahan alam dan perkampungan yang dilewati membuat suasana di perjalanan menjadi menyenangkan.

Setelah menempuh waktu hampir satu setengah jam, sampailah di kampung Kotabatoe. Danau Ranau tinggal 5km lagi di depan. Namun kami berbelok ke kiri, menuju pekon atau desa Lumbok dimana Pesta Budaya Ranau diselenggarakan. Setelah menanjak tajam, akhirnya jalan mulai menurun namun tetap berkelok. Sesekali, di kejauhan dalam lebatnya hutan terdengar suara sejenis siamang.

Akhirnya hampir pukul 17.00 sampailah kami di tempat tujuan. Danau Ranau, danau terbesar kedua di Sumatera berada di depan mata. Rasa lelah setelah menempuh perjalanan hampir delapan jam dari Bandar lampung segera sirna. Kecantikan dan keasriannya seakan menjadi obat lelah yang manjur bagi wisatawan yang datang ke sana. Danau yang dikelilingi oleh gunung Seminung dan Bukit Barisan terbentang luas. Di ujung barat tampak hamparan bukit di wilayah Sumatera Selatan.

Perjalanan dengan menempuh jarak 275 km dari kota Bandar Lampung menuju danau Ranau sungguh melelahkan. Namun terasa mengasyikkan bila hijaunya perkebunan, hutan, gunung dan keunikan perkampungan yang alami dinikmati dalam perjalanan sebagai sebuah kekayaan yang tidak bisa disia-siakan begitu saja.

 

Juga dimuat di: www.kratonpedia.com Portal Informaasi Budaya kaum Muda Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *